Gemerlap Ribuan Lampu Colok: Tradisi Malam Tujuh Likur Desa Mancung Kembali Memukau Pengunjung.

avatar Administrator
Administrator

9 x dilihat
Gemerlap Ribuan Lampu Colok: Tradisi Malam Tujuh Likur Desa Mancung Kembali Memukau Pengunjung.

BANGKA BARAT – Memasuki malam ke-27 Ramadan, atau yang dikenal oleh masyarakat Melayu sebagai Malam Tujuh Likur, Desa Mancung di Kecamatan Kelapa, Bangka Barat, kembali berubah menjadi lautan cahaya. Tradisi tahunan yang ikonik dengan ribuan lampu colok (pelita minyak tanah) ini sukses menyedot perhatian ribuan warga dari berbagai penjuru Pulau Bangka.

Pemandangan paling mencolok terlihat pada gapura raksasa berbahan bambu yang berdiri kokoh di sepanjang jalan utama desa. Gapura-gapura tersebut dibentuk menyerupai replika masjid dengan detail kubah dan menara yang rumit.

Ribuan lampu colok disusun sedemikian rupa mengikuti pola bangunan, menciptakan siluet cahaya yang sangat megah di tengah kegelapan malam. Cahaya kekuningan dari api pelita memberikan nuansa hangat dan religius yang kental, sangat kontras dengan hiruk-pikuk kendaraan yang melintas di bawahnya.

Bagi masyarakat Desa Mancung, menyalakan lampu colok bukan sekadar hiasan. Ini adalah warisan turun-temurun yang melambangkan kegembiraan menyambut malam Lailatul Qadar.

"Ini adalah identitas kami. Setiap tahun, pemuda dan orang tua bahu-membahu membangun gapura ini selama berminggu-minggu sebelum masuk malam 27 Ramadan," ujar salah satu warga setempat. Semangat gotong royong inilah yang membuat tradisi di Desa Mancung tetap eksis dan bahkan menjadi yang paling meriah di wilayah Bangka Barat.

Pemerintah daerah setempat terus mendorong agar tradisi Malam Tujuh Likur di Desa Mancung ini tetap terjaga. Selain sebagai sarana syiar Islam, kegiatan ini juga diharapkan dapat terus meningkatkan ekonomi kreatif masyarakat sekitar melalui kunjungan wisatawan yang terus meningkat setiap tahunnya.

 

*(Press Rilis oleh : Ardi)