Di Desa Air Anyir, Merawang, suasana pagi itu terasa berbeda. Aroma tanah basah berpadu dengan desir angin pesisir, menyambut langkah warga yang datang berduyun-duyun menuju balai desa. Di tangan sebagian orang tampak nampan berisi air, bunga, dan makanan tradisional pertanda bahwa Rebokasan tradisi tua yang sarat makna spiritual dan budaya, kembali digelar.
Rebokasan bagi masyarakat Bangka bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah ruang untuk kembali menata batin, memohon perlindungan, dan mengucap syukur kepada Allah SWT atas anugerah sepanjang tahun. Meski berakar dari budaya Melayu pesisir, tradisi ini telah lama menyatu dengan nuansa Islam. Doa-doa dipanjatkan, ayat-ayat suci dibacakan, dan zikir menggema pelan, menciptakan suasana haru dan kekhidmatan yang sulit dijelaskan dengan kata.
Di sudut halaman, para sesepuh adat terlihat berbincang dengan wajah tenang. Mereka mengingat masa ketika Rebokasan dilakukan untuk memohon keselamatan bagi hasil bumi lada, sawah, hingga laut yang menjadi nadi kehidupan masyarakat. Kini, maknanya meluas yaitu melindungi keluarga, kampung, dan menjaga harmoni hidup.
Sementara doa berlangsung, anak-anak berlarian riang. Para ibu menyiapkan hidangan, dan para bapak bergotong royong menata tempat ritual. Setelah rangkaian ibadah selesai, warga bersama-sama melakukan bersih kampung membersihkan parit, merapikan halaman, hingga memungut sampah di sekitar pesisir Air Anyir. Sebuah bentuk nyata dari kearifan lokal yang mengajarkan bahwa spiritualitas tak berhenti pada doa saja, tetapi juga pada tindakan menjaga lingkungan.
Tradisi ini mengajarkan kami untuk selalu bersyukur dan tidak melupakan asal-usul, “ujar salah satu tokoh masyarakat dengan mata berbinar. Rebokasan membuat kami merasa kembali dekat dengan Tuhan, dengan alam, dan dengan sesama.”
Menjelang siang, acara ditutup dengan makan bersama. Hidangan lokal seperti lempah kuning, ketupat, dan berbagai kue tradisional tersaji di atas tikar. Suasana kekeluargaan yang hangat menandai betapa kuatnya nilai sosial yang dipertahankan oleh masyarakat Air Anyir.
Di tengah perkembangan zaman, Rebokasan tetap berdiri sebagai penanda identitas. Ia bukan sekadar ritual, tetapi cerita tentang bagaimana masyarakat Bangka menjaga warisan leluhur sambil tetap menanamkan nilai-nilai Islam sebagai pegangan hidup. Tahun demi tahun, tradisi ini mengalir seperti air yang membersihkan, menenangkan, menyatukan, dan menguatkan.
(Press Rilis oleh Sabilla)